CHAT Via WhatsApp

artikel

diposkan pada : 19-01-2021 16:57:15

Tidak ada usaha yang menipu hasil, begitulah kira-kira kata yang tepat bagi para desainer modest untuk memajukkan industri fesyen muslim Tanah Air. 

Mereka Ria Miranda, Dian Pelangi, Rani Hatta, Jenahara, Si.Se.Sa, Vivi Zubedi dan Restu Anggraini  adalah contoh desainer yang mempopulerkan busana muslim.

Sederet prestasi baik dari dalam  negeri dan luar negeri telah mereka kantongi. Tak heran kini koleksinya yang selalu berinovasi menjadi incaran para muslimah yang ingin berpenampilan modis.

Berikut adalah 7 perjalanan karir desainer modest wear Tanah Air yang penuh prestasi.

Ria Miranda

Meski awalnya hanya mendesain baju untuk digunakan sendiri, keinginan  Ria  Miranda untuk berbisnis busana muslim tidak terelakan. Adapun alasan lain yakni karena dia lahir dan besar ditengah keluarga berjiwa entrepreneur. 

Desainer yang identik dengan print dan warna pastel menerapkan ilmu yang didapatnya di sekolah mode. Sekitar 2008, ia berani merilis brand busana muslimah bertajuk Shabby Chic by Ria Miranda. Tetapi sejak 2009, label ini berubah nama menjadi Ria Miranda.

Awal bisnisnya pun dimulai dari modal Rp 15 juta yang dikeluarkan dari kocek pribadinya. Karya Ria mulai matang perlahan dengan ciri khas yang melekat pada DNA nya.

"Iya waktu terjun di dunia desain, memang terbilang cukup lancar untuk produksinya.Untuk satu buah dress misalnya, pengerjaannya bisa memakan waktu hingga dua hari," kata Ria Miranda.

Hampir 10 tahun lebih bergelut di dunia mode modest Indonesia, lulusan Universitas Andalas Padang ini berharap bisnisnya bisa bertahan lama dan diterima oleh banyak kalangan. Tak hanya itu saja, ia juga ingin membuktikan bahwa produk lokal bisa bersaing ditengah gempuran dari brandluar negeri yang mulai hadir.

Dian Pelangi

Menjadi seorang desainer terkenal seperti sekarang ini, bukanlah sebuah hal yang mudah bagi Dian Pelangi. Ada banyak proses yang Dian lakukan untuk menjalani bisnis busana muslim keluarganya.

Kendati awalnya Dian hanya diminta untuk mengembangkan dan mengelola butik orangtuanya, namun wanita berdarah Palembang ini juga ingin memiliki sebuah bisnis sendiri. Dian mulai membuat desain, memasarkan, dan bahkan mengelola bisnisnya secara mandiri dan profesional.

"Lahir di keluarga perancang dan pebisnis busana muslim rasanya saya jadi sangat dekat dengan keluarga, karena banyak hal dilakukan bersama ibu, ayah, kakak atau adik saya. Jadi lebih banyak quality time bersama keluarga," kata Dian Pelangi.

Tak ingin muluk-muluk, untuk perjalanan karir  nya, Dian ingin tetap fokus terhadap bisnis nya. Serta ingin memberikan karya terbaiknya kepada para muslimah.

"Masih merasa cukup di titik ini, lebih ingin membenahi produksi internal dan fokus. Serta mengembangkan penjualan online," ungkap dia.

Restu Anggaraini

Berawal dari kebutuhan mencari baju yang sesuai dengan karakternya, Restu tertarik terjun sebagai desainer dan pebisnis fesyen. Restu semakin mencintai dan mantap untuk menjalankan bisnis fesyen. 

Sekitar tahun 2009 Restu Anggraini menjalankan bisnis pakaian online dengan modal awal Rp 3 juta bersama dua temannya. Meski awalnya hanya coba-coba, Restu saat itu tak mau main-main dalam membuat produknya. 

Etu sapaan akrabnya dan temannya memproduksi produk hijab dengan jahitan yang kualitas terbaik. Hasilnya pasar merespon produknya dengan cukup baik. “Awal karir aku itu pada tahun 2009 modalnya hanya Rp 3 juta dan itu bersama dua teman saya. Dan kita menghasilkan produk hijab dulu,” kata Restu.  Kendati belajar secara otodidak, namun keseriusan restu menapaki bisnis fesyen tidak boleh dipandang sebelah mata. Dia pun memilih menuntut ilmu fesyen di Esmod hingga hasilnya  label RA by Restu Anggraini dan ETU ini pun berhasil dia hadirkan.

Bak gayung bersambut, produknya pun mulai digandrungi oleh wanita muslimah bergaya formil dan kekinian. Dari sini Restu pun semakin yakin dan percaya diri untuk terus melangkah meski kemudian kedua temannya tidak lagi bisa meneruskan kerja sama karena harus pindah ke luar kota.

Vivi Zubedi

Berawal dari kebutuhan berbusana muslim, membuat Vivi Zubedi  memutuskan berkarir sebagai seorang desainer pada 2011 silam. Dibalik kepiawaiannya merancang abaya, desainer dua anak ini adalah seorang akuntan.

Saat itu terjun ke industri fesyen, Vivi mengaku belum banyak yang mengetahui karyanya. Namun ia tidak patah semangat dan terus berusaha mengenalkan abaya pada wanita muslimah Indonesia.

Vivi mengkhususkan diri untuk merancang busana abaya, gamis panjang yang didominasi oleh warna hitam dan dihiasi berbagai corak. Vivi pun mengaku bahwa setiap tahunnya dia langsung menciptakan tren baru untuk memanjakkan para penggemar. “Sudah dari 2011 saya sebagai desainer, ini passion juga sebenarnya kebutuhan  berbusana (muslim) saya.

Sebab saat itu fesyen belum berkembang dan saya mencoba ciptakan tren baru,” ujar Vivi Zubedi. Wanita yang satu-satunya  memamerkan busana muslim di panggung The Shows New York Fashion Week 2018 ini juga potensi pasar yang besar, khususnya bagi abaya. Tidak hanya Indonesia, para pelanggan Vivi  pun sudah tersebar di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah dan Afrika.

Vivi pun memiliki rencana yang akan dijalankannya dalam waktu dekat. Dia ingin ekspansi dengan hadir di pusat perbelanjaan bergengsi di luar negeri. “Saya pikir ingin ekspansi karena branding sudah sukses. Brand Vivi Zubedi sudah mendapatkan banyak lamaran dari department store luar,” kata dia.

Jenahara

Seperti sebuah pepatah buah tak jauh jatuh dari pohonnya. Begitulah kira-kira perumpaan yang cocok bagi desainer Jenahara Nasution yanh merupakan anak dari desainer Ida Royani.

Awal mula dia terjun ke dunia fesyen adalah dipengaruhi oleh sang ibunda yang merupakan seorang aktris sekaligus desainer kondang Indonesia, Ida Royani. Wanita berdarah Batak itu kini sukses sebagai desainer muda yang telah memamerkan rancangannya hingga ke luar negeri. Jehan pun mengaku sudah jatuh cinta dengan dunia fesyen sejak kecil. 

Meskipun ada embel-embel  sang ibunda, namun Jehan sapaan akrabnya mengatakan kalau awal membangun label fesyen miliknya tidak ada campur tangan ibunya.

"Aku itu bikin Jenahara itu dari nol banget, kalau orang enggak tau, dia bilangnya aku dibantu mama. Aku mulai dari nol dengan modal sendiri karena aku pengen maju karena usahaku bukan mamaku,” kata dia. Dia menuturkan bahwa sampai brand Jenahara keluar pun pada tahun 2011 ibunya tidak tahu. Dan tahu soal tersebut dari teman nya. Salah satu pendiri Hijabers Community Indonesia itu mengatakan bahwa dia juga sempat vakum setelah 2006 karena menikah dan punya anak. Ia baru memutuskan memperkenalkan label pertamanya itu setelah hijab mulai bervariasi dan terus berkembang di Indonesia. Keputusan Jehan saat itu tepat dan kini ia telah memetik hasilnya.

  • Rani Hatta

Memiliki minat yang sangat besar dalam dunia mode, membuat Rani Hatta memutuskan untuk menjadi desainer modest wear. Rani sendiri merupakan desainer busana muslim yang berfokus pada busana kasual dengan garis desain modern dan minimalis.

Rani mengawali karinya sejak tahun 2013, wanita kelahiran 1990 ini mendirikan brand yang diambil dari namanya sendiri, Rani Hatta. Ia memproduksi rok panjang, celana, blus, dan jaket dengan desain sederhana yang mudah dipasangkan dengan busana lainnya. “Aku mengawali karir sejak 2013 dengan menciptakan brand Rani Hatta. Aku itu sangat senang dengan menciptakan busana bergaya sederhana dan minimalis,” ujar Rani Hatta. Pada awal merintis karir menjadi desainer, semuanya dia kerjakan sendiri.

Mulai dari menggambar pola busana, belanja untuk keperluan menjahit, termasuk kegiatan promosi hingga mengepak dan mengirim barang. Rani kemudian merekrut dua orang pegawai untuk membantunya. Namun karena banyaknya antusiasme yang didapat atas hasil karyanya, anak terakhir dari dua bersaudara ini merasa kewalahan hingga akhirnya kini ia memiliki 30 pegawai lebih.

Si.Se.Sa

Berawal dari sang bunda Merry Pramono yang juga seorang desainer,  rand ternama Si.Se.Sa. berdiri. Brand yang didirikan oleh tiga bersaudara, Siriz, Senaz dan Sansa di tahun 2011 ini mengawali koleksinya pada lini busana muslim wanita. 

Namun, di tahun 2013 Si.Se.Sa mulai beralih pada desain busana muslim menjadi lebih syar’i. Mereka bertiga menghasilkan second line baju muslim melalui sang bunda. Si.Se.Sa sendiri memulai debutnya di tahun 2013 dengan memamerkan koleksinya di ajang bergengsi Indonesia Fashion Week (IFW) di Jakarta.

“Si.Se.Sa itu merupakan brand dari kakak beradik yakni Siriz, Senaz dan Sansa di tahun 2011 dan mengawali koleksinya pada lini busana muslim wanita lalu berganti menjadi busana syar’i tahun 2013,” kata Senaz. 

Si.Se.Sa sendiri mampu mewujudkan busana syar’i yang nyaman, stylish, namun tetap tertutup sesuai dengan ketentuan Islam. Khimar adalah salah satu produk favorit dari Si.Se.Sa. dengan detail kristal Swarosvki. Dengan menggunakan warna-warna pastel ditambah bordiran yang cantik memberikan detail lebih fashionable. Busana rancangan Si.Se.Sa juga semakin terlihat mewah dan memiliki pelanggan setia yang tersebar di seluruh Indonesia.